dikutip dari majalah GM
PEMIJAT yang satu ini berbeda dari yang lain. Ia tidak mangkal di panti pijat sebagaimana layaknya pemijat yang tersebar di Kota Kembang ini. Ia justru memilih ngetem di hotel, mencari tamunya lewat iklan dan nomor handphone (HP) di media massa atau melalui kurir yang mampu menghubungi hotel.
"Saya kerja dari hotel ke hotel. Tamunya ada yang langsung mengontak lewat HP saya, ada pula yang lewat HP seseorang dari hotel," tutur Ima yang mengaku berusia 30 tahunan. Wanita yang berkulit hitam manis ini berasal dari Sukabumi dan sudah tiga tahun menjadi pemijat.
"GM" memang tidak langsung ngobrol face to face, melainkan melalui HP-nya. Lewat pengakuannya, Ima menyebutkan nomor dan kamar hotel yang ia sewa harian di Jln. Pasirkaliki Bandung. "Pokoknya, kalau Bapak mau, entar saya datang ke kamar hotel tempat Bapak menginap," katanya.
Ima pun tidak ragu-ragu menyebutkan postur dan potongan wajah, warna kulit hingga hal lainnya. "Kulit saya hitam dan wajah manis. Enggak ngecewain deh. Dada dan pinggul montok, rambut sebahu," katanya blak-blakan.
"Soal pijatan, saya memang ahlinya. Dulu pernah bekerja di panti pijat, tetapi kemudian keluar. Soalnya, saya hanya dapat bonus sedikit. Mendingan sekarang, tanpa bos saya ngatur sendiri," kata Ima.
"Apa hanya memijat?" "Tergantung Bapak. Selain memijat, apa pun bisa saya lakukan. Semua tergantung permintaan," ujarnya.
"Kalau memijat saja berapa bayarnya? Berapa pula kalau lebih dari itu?"
"Sekadar pijat mah cuma Rp 200 ribu per jam. Selanjutnya tambahin lagi Rp 200 ribu. Itu shortime lo!"
"Kalau semalam suntuk?"
"Itu lain, Pak. Gopeklah (Rp 500.000) tambahannya, plus memijat nopek (Rp 200.000). Jadi Rp 700 ribu. Syukur-syukur kalau mau nambahin lagi. Pokoknya, Bapak tidak akan rugi," katanya lagi.
"Sering melayani tamu?"
"Ya... sering atuh" jawabnya agak ragu-ragu.
"Tamu dari mana saja?"
"Ya, tamu yang menginap di hotel-hotel, mulai dari hotel berbintang hingga hotel melati," tuturnya. Ima mengatakan, ia tak mau dijemput oleh tamu yang menginginkan servisnya.
"Biarlah saya saja yang datang naik taksi. Pokoknya, Bapak tunggu saja di kamar," katanya meyakinkan.
Ternyata tarif yang disodorkan Ima ini fleksibel juga. "GM" berpura-pura menawar. Ima yang semula ngotot akhirnya mengalah.
"Maunya berapa atuh Pa. Kok seperti dagangan saja?" katanya ketus.
"Nantilah dihubungi lagi, soalnya uangnya kurang," ujar "GM" sambil menutup telepon.
Cara memesan pemijat melalui HP sepertinya mode baru dalam bisnis esek-esek. Namun, sumber "GM" sempat wanti-wanti jangan sampai terjebak, mengaku pemijat padahal pekerja seks komersial (PSK).







